CILACAP – Menjawab tantangan era digital dan komitmen untuk meningkatkan kualitas riset, Institut Agama Islam Imam Ghozali (INSIMA) Cilacap melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM)  KEPALA LPPM PIPIT MULIYAH, M.Pd telah menyelenggarakan Review Proposal Hibah Internal tahun 2023. Sebanyak 18 proposal penelitian dan pengabdian masyarakat dari para dosen dipresentasikan dalam forum yang digelar secara daring ini.
Kegiatan tahun ini memiliki fokus khusus: mendorong lahirnya riset dan PkM yang mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran serta sejalan dengan roadmap penelitian strategis INSIMA. Untuk mengawal kualitas proposal, INSIMA menghadirkan delapan reviewer ahli dari berbagai disiplin ilmu, yaitu:
- Dr. Hisam Ahyani, M.H (Hukum Ekonomi Syariah)
- Memet Slamet, M.M. (Manajemen)
- Prof. Dr. Eva Latipah, M.Si (Ilmu Psikologi Pendidikan)
- Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag (Studi Agama Islam)
- Doddy Afandi Firdaus, M.S.I. (Syariah)
- Sarno Hanipudin, M.Pd.I. (Manajemen Pendidikan)
- Mawi Khusni Albar, M.Pd.I. (Pendidikan Agama Islam)
- Kartika Wanojaleni, M.Ag. (Studi Agama Islam)
Ketua LPPM INSIMA dalam sambutannya menekankan, “Hibah internal ini bukan hanya soal pendanaan, tetapi juga soal pengarahan. Kami ingin setiap riset yang lahir dari INSIMA tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan zaman dan sesuai dengan peta jalan pengembangan keilmuan institusi kita, khususnya dalam inovasi pembelajaran digital.”
Masukan Kritis untuk Proposal yang Relevan dan Inovatif
Sesi review berlangsung intensif, di mana setiap proposal dibedah secara mendalam. Para reviewer memberikan masukan konstruktif yang berfokus pada tema utama.
Prof. Dr. Eva Latipah, M.Si, sebagai ahli Psikologi Pendidikan, menyoroti aspek pedagogis dari penggunaan teknologi. “Integrasi teknologi jangan hanya sebatas memindahkan buku ke dalam format digital. Harus ada justifikasi psikologisnya. Bagaimana aplikasi atau media yang diusulkan ini dapat meningkatkan motivasi, keterlibatan (engagement), dan pemahaman kognitif mahasiswa? Dampak psikologis ini yang harus diukur,” tegasnya.
Dari rumpun ilmu keislaman, Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag dan Kartika Wanojaleni, M.Ag mendorong para dosen untuk mengeksplorasi pemanfaatan teknologi dalam studi agama. “Sangat potensial jika ada penelitian yang mengembangkan virtual reality untuk simulasi manasik haji, atau platform interaktif untuk mempelajari qawaid fiqhiyyah. Pastikan substansi keislaman tetap terjaga dan tidak terdistorsi oleh teknologi,” ujar Prof. Fauzi.
Dalam bidang Syariah dan Hukum Ekonomi Syariah, Dr. Hisam Ahyani, M.H dan Doddy Afandi Firdaus, M.S.I. memberikan catatan penting. “Untuk proposal yang menyentuh ranah fintech syariah atau aplikasi muamalah, aspek validasi syariahnya harus kuat. Bagaimana memastikan algoritma yang dikembangkan tidak mengandung unsur gharar atau maysir? Ini harus menjadi bagian dari metodologi penelitian,” kata Dr. Hisam.
Sementara itu, dari perspektif manajemen, Memet Slamet, M.M. dan Sarno Hanipudin, M.Pd.I. mempertanyakan skalabilitas dan keberlanjutan inovasi yang diusulkan. “Platform pembelajaran yang dikembangkan harus dipikirkan keberlanjutannya. Apakah mudah diintegrasikan dengan sistem akademik yang ada? Seberapa besar sumber daya yang dibutuhkan untuk pemeliharaannya? Aspek manajerial ini krusial agar inovasi tidak berhenti setelah riset selesai,” saran Sarno Hanipudin.
Mawi Khusni Albar, M.Pd.I., yang berfokus pada Pendidikan Agama Islam, menambahkan pentingnya antarmuka yang ramah pengguna (user-friendly). “Teknologi yang canggih tidak akan efektif jika sulit digunakan oleh dosen dan mahasiswa. Pastikan desain pembelajaran dan antarmukanya intuitif dan benar-benar membantu proses belajar, bukan malah mempersulit,” pungkasnya.
Dengan adanya masukan-masukan tersebut, para dosen pengusul proposal diharapkan dapat menyempurnakan rancangan penelitian mereka agar lebih tajam, inovatif, dan berdampak. LPPM INSIMA akan segera mengumumkan proposal yang berhasil lolos pendanaan setelah proses revisi selesai dilakukan.


